Kamis, 09 Juni 2011

Profile Sekretaris

Riza Bahtiar, S.Fils.I (Sekretaris)

Dilahirkan pada Minggu, 27 Oktober 1977 Masehi atau15 Zulhijah 1397 H di Tanjung, Tabalong, Kalimantan selatan, Riza Bahtiar, nama lengkapnya, mengaku punya hobi membaca. Saking keranjingan membaca, waktu kecil, ia pernah berkhayal di surga ada buku untuk dibaca. Ia bersekolah di SDN Pembataan dan lulus pada 1984. Pendidikan menengah pertama dan atas ditempuhnya di SMPN 2 Tanjung (lulus 1993) dan SMAN 1 Tanjung (lulus 1996).

Selepas SMA, Riza melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi Islam, Institut Agama Islam Negeri Antasari Banjarmasin. Awalnya, ia mengambil Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadits, tapi setelah masa orientasi, ia merasa salah masuk. Ia banting setir ke jurusan Aqidah dan Filsafat. Di Banjarmasin, Riza merasa pergulatan keilmuannya kurang maksimal. Lantas, pada 1999, ia memutuskan pindah ke Jakarta. Di Jakarta, ia masuk ke Institut Agama Islam Negeri Syarif Hidayatullah (sekarang Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah) tetap di fakultas dan jurusan yang sama.

IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta sebenarnya berada di Ciputat. Pada tahun 1999, ketika Riza menjejakkan kakinya di sana, banyak forum studi yang berdiri. Salah satu yang sudah mapan adalah Formaci (Forum Mahasiswa Ciputat). Riza pernah hadir di diskusi Formaci, yang saat itu dipimpin oleh Burhanuddin Muhtadi. Karena kurang suka dengan gaya diskusi Formaci, Riza lebih memilih bergabung dengan Forum Studi MaKAR. Waktu ia bertanya apa artinya makar, kawan-kawannya bilang bahwa awalnya itu singkatan dari Mahasiswa Anti Golkar. Tapi, setelah Soeharto tumbang, singkatan makar disepakati jadi manba’ul afkar yang artinya, sumber pemikiran.

Di forum studi ini, Riza dan kawan-kawannya bergulat dengan berbagai aliran pemikiran dari filsafat, sosiologi, psikologi, politik, dan lain-lainnya. Dari forum ini juga Riza mengenal gagasan-gagasan tentang demokrasi dan Islam. Pada tahun 2000, Riza pernah bergabung dengan FAMRED (Front Aksi Mahasiswa untuk Reformasi dan Demokrasi). Saat itu, aliran FAMRED bukan lagi pada gerakan NVA (Non-Violence Action), tapi sudah pada Violence Action. Merasa bukan panggilan jiwanya, Riza keluar dari FAMRED. Pada 2002, ia diajak Ahmad Baso membantu jadi panitia pada program Madrasah Emansipatoris yang digarapnya di Desantara Institute for Cultural Studies. Pada 2003, Riza menjadi Pimred newsletter Diaspora, newsletter yang berbicara tentang analisis kebudayaan. Di Desantara, Riza mengenal juga M. Nurkhoiron, yang belakangan pada 2005 mengajaknya untuk terlibat dalam penelitian komunitas Dayak Meratus di Kalimantan Selatan. Penelitian ini disponsori oleh TIFA Foundation. Hasil penelitian Riza dimuat dalam buku Hak Minoritas: Dilema Multikulturalisme di Indonesia (Jakarta: Interseksi Foundation, 2005).

Tahun 2006, Riza memutuskan untuk pulang kampung ke Kalimantan. Di Kalimantan Selatan, ia berwirausaha menjadi pebisnis telepon seluler karena keminatan menjadi Pegawai Negeri atau Karyawan Perusahaan tidak dirasakannya. Tapi, ia juga berusaha menerbitkan Iloen Tabalong sebagai penyalur minat menulisnya, sebuah tabloid mini yang sarat iklan. Sayang, Iloen hanya sempat terbit sampai 8 edisi.

Sejak tahun 2007 diajak masuk menjadi anggota LangsaT bersama Erwan Susandi dan Wahid Nurdin. Diskusi-diskusi kecil yang dilaksanakan oleh bertiga ini dilaksanakan setiap hari sabtu dikediamannya yang menjadi seketariat LangsaT pada saat itu sebelum pindah ke Jalan Tangki Hijau.

Dari diskusi-diskusi tersebut tercetuslah ide dan kegiatan seperti menginventarisir komuditi Tabalong, mencoba membuat kopi pasak bumi plus jahe merah yang di ektrakan. Membuat analisa ekonomi Tabalong yang diprersentasikan di DPRD Tabalong dan mendesak adanya peraturan dan peran pemerintah untuk penyelamatan perekonomian masyarakat, merumus KeMaMa (Kelompok Masyarakat Mandiri) dan melaksanakan beberapa survey baik yang dilaksanakan sendiri atau dikerjasamakan dengan intansi atau perusahaan.

Sebagai pelaksana suatu program dan kegiatan pendampingan masyarakat terutama Desa Talan dan Kampung Ayah Muara Uya juga ikut dalam diskusi-diskusi masyarakat atau pendorongan sistem yang baik melalui lembaga swadaya masyarakat LangsaT. Sesambil dikesibukan harian sebagai pedagang di jalan Anggrek Raya Pembataan Murung Pudak Kabupaten Tabalong.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar